Konseling
Eksistensial Humanistik
A.
Konsep Dasar tentang
manusia
1.
Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri
apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa
yang ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya.
2.
Manusia tidak pernah statis, ia selalu menjadi sesuatu yang
berbeda, oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan
mandiri menuju aktualisasi diri
3.
Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang
kreatif. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada
seluruh bentuk self expression.
B.
Sikap dan peranan konselor
Peranan konselor sangatlah penting
di sini. Ia menetapkan dan meningkatkan suatu suasana
dimana klien bebas dan didukung untuk mengeksplorasi semua aspek mengenai diri
sendiri (Rogers, 1951, 1980). Suasana ini berfokus pada hubungan
konselor-klien, yang digambarkan Rogers sebagai seseorang dengan kualitas
kepribadian “Saya-Anda” yang spesial. Konselor sadar akan bahasa verbal maupun
non-verbal klien, dan konselor merefleksikannya kembali apa yang ia dengar
maupun amati (Braaten, 1986). Klien maupun konselor tidak tahu arah sesi apa
yang akan dilakukan atau tujuan apa yang akan muncul selama proses berlangsung.
Klien merupakan seseorang yang “berwenang terhadap terapinya sendiri” (Moon,
2007, p. 277). Oleh karena itu, konselor mempercayai kliennya untuk
mengembangkan agenda yang ingin ia kerjakan. Tugas konselor adalah lebih
sebagai fasilitator daripada pengarah. Dalam pendekatan berpusat pada orang,
konselor adalah ahli proses dan ahli penelitian (dari klien tersebut).
Kesabaran adalah kuncinya (Miller, 1996).
C.
Tujuan Konseling
1. Mengoptimalkan kesadaran individu
akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Saya adalah
saya
2. Memperbaiki dan mengubah sikap,
persepsi cara berfikir, keyakinan serta pandangan-pandangan individu, yang
unik, yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat
mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal
mungkin.
3. Menghilangkan hambatan-hambatan yang
dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya.
4. Membantu individu dalam menemukan
pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya.
D.
Teknik-Teknik Konseling
Teknik
yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client
centered counseling, sebagaimana
dikembangkan oleh Carl R. Rogers. meliputi:
a.
acceptance (penerimaan);
b.
respect (rasa hormat);
c.
understanding (pemahaman);
d.
reassurance (menentramkan hati);
e.
encouragementlimited questioning (pertanyaan terbatas);
f.
reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan).
Melalui
penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat :
(1) memahami dan menerima
diri dan lingkungannya dengan baik;
(2) mengambil keputusan yang tepat;
(3) mengarahkan diri;
(4) mewujudkan dirinya. (memberi dorongan)
E.
Deskripsi Tahapan dalam Konseling
1. Adanya hubungan yang akrab antara
konselor dan konseli.
2. Adanya kebebasan secara penuh bagi
individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya.
3. Konselor berusaha sebaik mungkin
menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan
sanggahan.
4. Unsur menghargai dan menghormati
keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci
atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling.
5. Pengenalan tentang keadaan individu
sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor.
Sinopsis permasalahan
Ada seorang anak laki-laki namanya
Toni, Dia seorang siswa SMA. Dia adalah siswa yang pemalu, pendiam, dan dia
termasuk siswa yang pandai di kelasnya, dia juga siswa yang aktif mengikuti
berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Tetapi, entah mengapa dalam
beberapa minggu ini sifat dan perilaku Toni berubah sangat drastis. Dia menjadi
sering tidak masuk jam pelajaran bahkan tidak masuk sekolah. Entah apa yang
terjadi dengan Toni?. Beberapa teman Toni melaporkan kepada Gurur BK, bahwa
Toni sering tidak masuk jam pelajaran. Sebagai Guru BK harus cepat bertindak
karena Toni adalah anak yang jarang berbuat salah di sekolahnya, tetapi kenapa
aklhir-akhir ini Dia berubah menjadi anak yang suka bolos jam pelajaran.
Masalah yang terjadi pada Toni
seorang siswa SMA pada synopsis diatas dapat digolongkan kedalam bidang
bimbingan pribadi. Berrkaitan dengan itu maka pendekatan yang cocok untuk di
jadikan sebagai strategi intervensinya adalah “pendekatan konseling trai and
factor”.
Alasannya
:
Karena pendekatan trait and factor
menekankan pada kepribadian individu dimana pendekatan ini mengajak individu
untuk berpikir mengenai dirinya serta mengembangkan cara-cara yang dilakukan
agar keluar dari masalah yang di hadapinya. Konseling trait and factor
menjadikan individu untuk dapat mengalami :
·
Klarifikasi diri
·
Pemahaman diri
·
Penerimaan diri
·
Pengarahan diri
·
Aktualisasi diri
Untuk dapat membuat individu keluar
dari masalahnya, konselor harus menggunakan teknik teknik yang dipakai dalam
konseling trait and factor yaitu menganalisis, sintesis, diagnosis, prognosis,
konseling(treatment), dan follow up mengenai masalah yang di alaminya itu.
Kembali ke synopsis di atas, konselor dapat menggunakan teknik – teknik trait
and factor secara berkelanjutan maka akan menemukan permasalahan yang sebenarnya
dialami oleh Toni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berpartisipasi menuangkan ide, gagasan, pendapat yang konstruktif serta saran untuk blog saya lebih baik.
So, i want to good idea of you right now......