Sabtu, 09 Agustus 2014

Konseling Eksistensial Humanistik

Konseling Eksistensial  Humanistik

A.     Konsep Dasar tentang manusia
1.       Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya.
2.       Manusia tidak pernah statis, ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda, oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri
3.       Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression.
B.     Sikap dan peranan konselor
            Peranan konselor sangatlah penting di sini. Ia menetapkan dan meningkatkan suatu            suasana dimana klien bebas dan didukung untuk mengeksplorasi semua aspek mengenai diri sendiri (Rogers, 1951, 1980). Suasana ini berfokus pada hubungan konselor-klien, yang digambarkan Rogers sebagai seseorang dengan kualitas kepribadian “Saya-Anda” yang spesial. Konselor sadar akan bahasa verbal maupun non-verbal klien, dan konselor merefleksikannya kembali apa yang ia dengar maupun amati (Braaten, 1986). Klien maupun konselor tidak tahu arah sesi apa yang akan dilakukan atau tujuan apa yang akan muncul selama proses berlangsung. Klien merupakan seseorang yang “berwenang terhadap terapinya sendiri” (Moon, 2007, p. 277). Oleh karena itu, konselor mempercayai kliennya untuk mengembangkan agenda yang ingin ia kerjakan. Tugas konselor adalah lebih sebagai fasilitator daripada pengarah. Dalam pendekatan berpusat pada orang, konselor adalah ahli proses dan ahli penelitian (dari klien tersebut). Kesabaran adalah kuncinya (Miller, 1996).

C.    Tujuan Konseling
1.      Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Saya adalah saya
2.      Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi cara berfikir, keyakinan serta pandangan-pandangan individu, yang unik, yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin.
3.      Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya.
4.      Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya.
                                                   
D.     Teknik-Teknik Konseling
            Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client       centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Rogers. meliputi:
a.      acceptance (penerimaan);
b.      respect (rasa hormat);
c.       understanding (pemahaman);
d.      reassurance (menentramkan hati);
e.       encouragementlimited questioning (pertanyaan   terbatas);
f.        reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan).       

Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat :
(1)    memahami dan     menerima diri dan lingkungannya dengan baik;
(2)   mengambil keputusan yang tepat;
(3)   mengarahkan diri;
(4)   mewujudkan dirinya. (memberi    dorongan)

E.     Deskripsi Tahapan dalam Konseling
1.      Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli.
2.      Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya.
3.      Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan.
4.      Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling.
5.      Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor.
Sinopsis permasalahan
            Ada seorang anak laki-laki namanya Toni, Dia seorang siswa SMA. Dia adalah siswa yang pemalu, pendiam, dan dia termasuk siswa yang pandai di kelasnya, dia juga siswa yang aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Tetapi, entah mengapa dalam beberapa minggu ini sifat dan perilaku Toni berubah sangat drastis. Dia menjadi sering tidak masuk jam pelajaran bahkan tidak masuk sekolah. Entah apa yang terjadi dengan Toni?. Beberapa teman Toni melaporkan kepada Gurur BK, bahwa Toni sering tidak masuk jam pelajaran. Sebagai Guru BK harus cepat bertindak karena Toni adalah anak yang jarang berbuat salah di sekolahnya, tetapi kenapa aklhir-akhir ini Dia berubah menjadi anak yang suka bolos jam pelajaran.
            Masalah yang terjadi pada Toni seorang siswa SMA pada synopsis diatas dapat digolongkan kedalam bidang bimbingan pribadi. Berrkaitan dengan itu maka pendekatan yang cocok untuk di jadikan sebagai strategi intervensinya adalah “pendekatan konseling trai and factor”.
Alasannya :
            Karena pendekatan trait and factor menekankan pada kepribadian individu dimana pendekatan ini mengajak individu untuk berpikir mengenai dirinya serta mengembangkan cara-cara yang dilakukan agar keluar dari masalah yang di hadapinya. Konseling trait and factor menjadikan individu untuk dapat mengalami :
·         Klarifikasi diri
·         Pemahaman diri
·         Penerimaan diri
·         Pengarahan diri
·         Aktualisasi diri
            Untuk dapat membuat individu keluar dari masalahnya, konselor harus menggunakan teknik teknik yang dipakai dalam konseling trait and factor yaitu menganalisis, sintesis, diagnosis, prognosis, konseling(treatment), dan follow up mengenai masalah yang di alaminya itu. Kembali ke synopsis di atas, konselor dapat menggunakan teknik – teknik trait and factor secara berkelanjutan maka akan menemukan permasalahan yang sebenarnya dialami oleh Toni.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berpartisipasi menuangkan ide, gagasan, pendapat yang konstruktif serta saran untuk blog saya lebih baik.
So, i want to good idea of you right now......